Tampilkan postingan dengan label ~politik~. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ~politik~. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 Juni 2011

Politik Pencitraan SBY Gagal

JAKARTA, KOMPAS.com — Ahli psikologi sosial politik, Abdul Malik Gismar, menilai publik sudah tidak lagi termakan dengan politik pencitraan yang dibentuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Selain itu, isu kebohongan publik yang sempat disematkan para tokoh lintas agama kepada pemerintahan SBY juga turut menurunkan tingkat kepercayaan publik terhadap kinerja pemerintah.
Berdasarkan survei yang dilakukan Institue for Strategic and Public Policy Research (Inspire), isu kebohongan publik, seperti perlindungan TKI, penanganan korupsi, mafia pajak, rekening gendut polisi, serta kasus Bank Century dan Sri Mulyani Indrawati, menunjukkan adanya ketidapercayaan masyarakat kepada SBY. Sebanyak 64,8 persen publik tidak percaya Presiden SBY telah melindungi TKI.
Dalam kasus Century dan Sri Mulyani, sebanyak 54,1 persen publik merasa SBY belum bersikap transparan. Sementara dalam hal pemberantasan korupsi, sebanyak 56,9 persen publik tidak percaya Presiden SBY telah bersungguh-sungguh. Presiden SBY juga dinilai belum menunjukkan kinerja optimal dalam membongkar mafia pajak (66,8 persen).
Demikian pula dalam kasus rekening gendut polisi di mana tingkat ketidakpercayaan publik mencapai 56,4 persen karena kasus ini tidak ada kelajutannya. Sementara itu, publik masih percaya kepada Presiden SBY untuk isu-isu makro yang lebih abstrak, seperti kebebasan beragama (68,5 persen) dan kebebasan pers (67,5 persen).
"Dari sini sudah terlihat politik pencitraan SBY gagal. Dari temuan ini sudah sangat jelas trennya menurun," ucap Abdul Malik Gismar, Minggu (24/4/2011) di Restoran Pulau Dua, Jakarta. Politik pencitraan itu gagal karena banyak isu kebohongan yang langsung mengena ke masyarakat sehingga masyarakat bisa menyimpulkan adanya ketidakberesan dalam pemerintah. "Sudah rapat tiap minggu, sudah ada inpres tetapi tidak ada konkretnya," ungkap Malik.
Faktor lain yang menyebabkan politik pencitraan SBY gagal juga diakibatkan karena personalitas dari SBY sendiri. "Gus Dur dikenal sebagai bapak pluralisme, Soekarno nasionalis, kalau SBY apa? Mungkin ada yang menyebutnya sebagai presiden wacana," tutur Malik.
Banyaknya rencana dan wacana dalam pemerintahan SBY inilah yang menjadi bomerang bagi kebesaran diri seorang presiden. "Ada faktor lain juga yakni adanya pemerintahan yang pincang," ungkap Malik.
Menurut dia, pemerintahan yang pincang ini terjadi lantaran tidak adanya eksekusi yang dilakukan pejabat-pejabat di bawah Presiden SBY. Adanya ketidaknyambungan visi, misi, dan komunikasi politik di antara lembaga eksekutif sehingga wacana-wacana itu tidak terwujud. Hal ini terlihat dalam survei Inspire, meski diterpa banyak isu tidak sedap, publik sebenarnya masih menilai kualitas kepemimpinan SBY baik (64,6 persen). Namun, tuntutan perlunya reshuffle tetap sangat tinggi, yakni sebanyak 61,1 persen  publik meyatakan perlu ada reshuffle.
"Ketidaknyambungan presiden dengan menteri-menterinya ini yang menarik. Ada masalah apa sebenarnya kan? Karena itu berpengaruh pada kinerja," kata Malik.

sumber : kompas.com
Sabrina Asril | Tri Wahono | Minggu, 24 April 2011 | 15:41 WIB

Ini 3 Nama Anggota DPR yang Diberhentikan

JAKARTA, KOMPAS.com — Badan Kehormatan DPR telah memutuskan menjatuhkan sanksi kepada tiga anggota DPR yang terbukti melakukan pelanggaran etika dan moral. Keputusan ini diambil dalam rapat BK di Wisma Kopo, pekan lalu. Ketiga nama itu adalah Misbakhun, As'ad Syam, dan Izzul Islam.
Wakil Ketua BK Nudirman Munir mengatakan, nama-nama itu akan segera diumumkan dalam rapat paripurna mendatang untuk mendapatkan persetujuan Dewan. "Sudah ada, akan diputuskan dalam paripurna mendatang," katanya di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (31/5/2011).
Misbakhun terjerat dalam kasus LC fiktif Bank Century tahun 2010. Kasusnya sudah vonis di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dan politisi PKS itu kini tengah mengajukan banding.
Izzul Islam terlibat dalam kasus pemalsuan ijazah palsu. Politisi PPP ini juga sudah dijatuhi vonis yang berkekuatan hukum tetap.
Sementara itu, As'ad Syam adalah politisi Demokrat yang terkait korupsi pembangkit listrik tenaga diesel di Muaro Jambi tahun 2004.
Selain ketiga nama itu, Nudirman juga menyebutkan nama politisi PDI-P, Dudhie Makmun Murod, yang sudah dijatuhi vonis oleh Pengadilan Tindak Pidana Korupsi terkait kasus suap dalam pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Miranda Goeltom tahun 2004. Namun, karena Dudhie disebutkan fraksi telah mengajukan pengunduran diri, Nudirman mengatakan bahwa BK akan meninjau kembali kewenangan BK untuk memutuskan sanksi baginya.

sumber : kompas.com
Caroline Damanik | Heru Margianto | Selasa, 31 Mei 2011 | 10:47 WIB

Nazaruddin Rahasiakan Tempatnya Berobat

JAKARTA, KOMPAS.com - Meski sudah bertemu dengan M Nazaruddin, Partai Demokrat mengaku tidak tahu di rumah sakit mana mantan bendahara umumnya tersebut berobat di Singapura. Politikus Partai Demokrat Sutan Bhatoegana yang turut menemui Nazaruddin mengatakan, dalam pertemuannya, Nazaruddin hanya menceritakan bahwa dirinya menderita sakit jantung.
"Waktu ketemu, Beliau (Nazaruddin) mengatakan sakit. Dan berat badan Beliau katanya telah turun 18 kilo. Beliau juga bilang kalau mengidap penyakit jantung. Dan ketika saya tanyakan dimana rumah sakit dan dokternya, dia katakan, 'Nanti aja Bang. Inikan privasi'. Dan Beliau katakan, Insya Allah kalau sudah selesai dia kan pulang," ujar Sutan kepada wartawan dalam jumpa pers di Kantor DPP Demokrat, Jakarta, Senin (6/6/2011) .
Sutan menuturkan, dirinya telah dua kali bertemu dengan Nazaruddin di Singapura pada Jumat (3/6/2011) malam, dan Sabtu (4/6/2011) sore. Namun, mengenai dimana tempatnya bertemu, ia enggan menjelaskan lebih lanjut. Ia hanya mengungkapkan, tempat tersebut ditunjukkan langsung oleh Nazaruddin melalui komunikasi via telepon. "Ketika kita bertemu dengan Beliau, badannya itu bongkok-bongkok, mata cekung, dan sudah brewok. Dan memang Beliau bilang saat itu tidak mau di blow upkepada publik, karena tidak mau diteror. Ya, kan kita juga yang disini diteror kan sama media, jadi kita hargai keputusannya itu," tambahnya.
Selain itu, dalam pertemuan tersebut,  Nazaruddin sempat memberikan sebuah surat pribadi. Surat tersebut berisikan pernyataan ia akan kembali ke Indonesia jika telah selesai berobat di Singapura. "Intinya, isi surat itu sama dengan tiga poin tadi yang dijelaskan oleh Bapak Anas. Yang pasti, kita bertemu Nazaruddin untuk berkomunikasi, bukan untuk menjemput. Dan Beliau katakan pasti akan kembali. Tapi, tidak disampaikan jelasnya kapan," pungkasnya.

sumber : kompas.com
Ary Wibowo | Inggried | Senin, 6 Juni 2011 | 18:38 WIB

Minggu, 05 Juni 2011

Inikah Mr A Yang Dituding Demokrat?

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Hasanuddin Aco
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Wakil Sekjen Partai Demokrat Ramadhan Pohan bikin heboh. Anggota DPR RI dari Fraksi Demokrat ini menyebut seorang politikus berinisial Mr A disebut-sebut tengah mengintervensi dan melakukan manuver menghancurkan Partai Demokrat.
Namun siapa Mr A dimaksud, juga belum dibocorkan oleh Ramadhan Pohan kepada publik. Publik pun menduga-duga. Apalagi sejumlah opini menyebut Mr A dimaksud bisa saja menjurus kepada Akbar Tanjung yang kini menjabat Ketua Dewan Pembina Partai Golkar atau Aburizal Bakrie, ketua umum Golkar.
Yang jelas, tudingan Pohan itu membuat pro dan kontra. Ramadhan Pohan disebut tidak kesatria menyebut secara fulgar siapa Mr A dimaksud.

Politisi kawakan Partai Golkar Bambang Soesatyo menilai statement Pohan itu merupakan upaya partai itu mencari kambing hitam (menyalahkan pihak lain).
"Saling cakar di internal mereka (Demokrat) terjadi tetapi mereka mencoba mencari kambing hitam," kata Bambang ketika dikonfirmasi Tribunnews.com dari Jakarta, Sabtu (4/6/2011).
Nah, agar tidak penasaran Tribunnews.com mengindentifikasi satu per satu nama-nama politisi yang diawali huruf A dan cukup dikenal publik. Beberapa diantaranya juga dikenal vokal mengkritik Demokrat. Mereka ini antara lain Aburizal Bakrie (Ketua Umum Partai Golkar),
Akbar Tandjung (Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar), Agung Laksono (Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar), Arief Puoyono (Kader Golkar, Ketua FSP BUMN).
Bukan hanya itu masih terdapat sosok Ali Mochtar Ngabalin (Politisi Partai Golkar), Ade Komaruddin (Ketua DPP Golkar), Adhie Massardi (Ketua Gerakan Indonesia Bersih), Anas Urbaningrum (Ketua Umum Partai Demokrat), Andi Nurpati (Politisi Partai Demokrat), Amir Syamsuddin (Dewan Kehormatan Partai Demokrat), Andi Mallarangeng (Menpora dan Anggota Dewan Pembina Demokrat), Angelina Sondakh (Wakil Sekjen Demokrat).
Tidak ketinggan terdapat pula Anis Matta (Sekjen Partai Keadilan Sejahtera/PKS), Andi Rahmat (Politisi dan Anggota DPR Fraksi PKS), Andreas Hugo Parera (Ketua DPP PDIP), Akbar Faisal (Anggota DPR dan Politisi Partai Hanura), Ahmad Muzani (Sekjen Partai Gerindra), dan
Ahmad Muqowam (Ketua DPP Partai Persatuan Pembangunan/PPP).

Sabtu, 04 Juni 2011

Inilah Arahan SBY untuk Elite Partai Demokrat

INILAH.COM, Jakarta - Pada Rabu (25/5/2011) malam, Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memanggil jajaran pengurus DPP, Dewan Pembina dan Dewan Kehormatan Partai Demokrat ke kediamannya di Puri Cikeas Indah, Bogor.

Dalam pertemuan itu, SBY memberikan arahan kepada para elite Partai Demokrat untuk tetap bersatu dan solid pasca pemecatan M Nazaruddin dari jabatan bendahara umum. Berikut petikan arahan SBY dalam pidatonya.

Pertemuan malam hari ini sebagaimana disampaikan Bung Anas Urbaningrum adalah pertemuan yang khusus bukan pertemuan reguler. Saya tahu di antara saudara tengah menjalankan tugas dan amanat dengan kegiatan yang padat. Tapi karena pertemuan malam ini penting saya terima kasih atas perhatian saudara semua.

Saya selaku Presiden, dalam bulan Mei ini agenda sangat padat, sejak selesai konferensi ASEAN kemarin sampai Juni ini kegiatan saya berada di suatu periode yang amat padat, para menteri tahu itu, tetapi saya menganggap pertemuan ini sangat penting sehingga harus dilaksanakan.

Saudara-saudara bagi yang dulu aktif berjuang sejak 2001 utamanya 2004 sampai 2009 tentu ingat saya jarang turun langsung seperti ini karena saya harus jalankan tugas mulia amanat rakyat di pemerintahan. Dulu juga ada masalah-masalah internal tapi saya pilih tidak sering turun, saya percayakan kepada DPP untuk menanganinya.

Periode ini pun saya hanya sekali-kali saja turun untuk memastikan partai kita berjalan. Kalau ada masalah kita intropeksi, evaluasi kita perbaiki petik pelajaran lalu melangkah ke depan.

Mengapa malam ini penting, pertama kita sedang alami musibah politik yang kalau keliru sikapinya sangat merugikan citra, nama baik partai kita dan mengganggu partai untuk menghadapi Pemilu 2014 dan ke depannya lagi.

Saya sebagai pembina partai melihat fenomena dan kecenderungan ada yang agak bergeser dari kultur nilai partai kita, maka saya ingin partai boleh berkembang, zaman boleh berubah tapi budaya partai, nilai yang dijalankan jangan ditinggalkan, diganti dengan prilaku politik yang lain. Yang menurut intuisi saya, observasi saya, pemikiran saya kurang baik untuk perjalan partai kita yang genap 10 tahun.

Niat saya baik untuk saudara semua, untuk partai kita, untuk bangsa dan negara. Maka kalau malam ini saya sampaikan dengan terbuka dan bahasa terang pahamilah lebih baik begitu daripada di antara kita tebak-menebak, saling curiga itu tidak baik. Lebih baik utuh kemudian bagaimana kita melangkah ke depan

Saudara sependapat dengan saya Partai Demokrat ke depan harus makin kuat dan besar. Dulu kita dirikan partai ini dari nol apa adanya dengan semangat keberanian. Bahkan kita alami pasang surut, Alhamdulillah Pemilu 2004 berhasil, 2009 lebih besar lagi, terima kasih kita kepada Allah SWT dan terima kasih kepada kader.

Tentu kembali lagi yang pertama kita ingin partai ini makin besar, kepentingan kedua tentu semua kader di daerah ingin pada Pemilu 2014 partai kita bisa sukses lagi, paling tidak sasaran kita sama dengan raihan 2009, syukur-syukur bisa lebih baik lagi.

Kepentingan ketiga, tentu kita semua ingin termasuk yang di DPR ingin selamat dan sukses. Selamat hadapi godaan, masalah, goncangan, tantangan. Sukses nama baik pribadi dan partai sehingga rakyat pilih kembali saudara dan partai kita kelak.

Kepentingan keempat saya sebagai kader partai yang dipercaya memimpin negara ini, saya juga mau selamat dan sukses bagaimana bisa membawa bangsa ini pada masa akhir bakti saya jadi lebih baik. Itulah kepentingan bersama kita, our common interest.



sumber : http://id.berita.yahoo.com/inilah-arahan-sby-untuk-elite-partai-demokrat-010300852.html